Selamat Datang

Selamat mengakses blog ini semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru

Rabu, 11 Maret 2009


PEMANFAATAN KOTORAN TERNAK SEBAGAI SUMBER PUPUK ORGANIK

Selama berabad-abad produktivitas tanaman pangan dan padang rumput berkaitan dengan masukan unsur hara melalui limbah ternak, baik dalam bentuk pupuk organik simpanan ataupun kotoran hewan gembalaan. Daur ulang limbah ternak berperan dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan, secara bersamaan juga meningkatkan produksi tanaman. Kotoran ternak dapat diubah menjadi pupuk organik yang mudah terdekomposisi dan berharga murah.
Penggunaan pupuk kandang sebagai sumber hara tanaman merupakan praktek tanaman yang sudah lama dilaksanakan oleh petani, terutama di tanah sawah. Pupuk kandang hewan memainkan peranan penting dalam sistem organik tidak saja karena sumbangan unsur haranya tetapi juga karena pengaruhnya pada kemampuan menahan air, aerasi draenase, mudah terurai, aktivitas mikroba, dan penyerapan unsur hara yang berlebihan dan senyawa racun. Selanjutnya dinyatakan bahwa pemilihan yang tepat untuk pupuk kandang organik berkaitan dengan sejumlah faktor termasuk iklim, tipe tanah, praktek penanaman tanaman pangan, dan pengaruh yang diinginkan dari pemberian pupuk kandang.

Potensi Kotoran Ternak Sebagai Pupuk Organik

Pupuk organik padat dapat dimasukkan dalam dua kategori yaitu (1) berdasarkan bahan penyusunnya maka pupuk organik padat termasuk pupuk alam, (2) berdasarkan cara pemberiannya termasuk dalam pupuk akar karena pemberian haranya lebih dari satu unsur makro seperti N, phospor (P), dan kalium (K) dan unsur mikro seperti kalsium (Ca), besi (Fe), dan magnesium (Mg) (Musnawar, 2003b). Komposisi kandungan unsur hara pupuk kandang sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain jenis hewan, keadaan hewan, jenis makanan, bahan hamparan yang dipakai, perlakuan, serta penyimpanan sebelum diaplikasikan di lahan.
Pupuk kandang cair adalah pupuk yang diperoleh dari urin hewan atau ternak. Urin hewan yang digunakan sebagai pupuk organik berwarna coklat dengan bau menyengat yang disebabkan oleh kandungan unsur nitrogen. Dibandingkan dengan kotoran padat, kandungan nitrogen pada urin lebih tinggi. Selain unsur N, urin juga mengandung unsur K dan unsur mikro lainnya. Pengaplikasian pupuk kandang cair berbeda dengan pupuk kandang padat biasanya pengaplikasian dilakukan setelah tanaman tumbuh. Hal ini dilakukan karena sebagian unsur hara dalam urin dapat langsung diserap oleh tanaman dan sebagian lagi masih harus diuraikan. Nitrat yang terbentuk akan hilang oleh faktor cuaca, seperti hujan dan sinar matahari. Bila cuaca berawan dan udara lembab, kehilangan unsur N lebih kecil dibandingkan kondisi panas, kering, dan banyak angin.
Jumlah kotoran padat dan cair yang dihasilkan masing-masing ternak dalam sehari berbeda-beda. Perbedaan jumlah kotoraan ternak ditentukan oleh kondisi dan jenis ternak serta jumlah dan jenis pakan hewan tersebut (Musnamar, 2003b). Hewan-hewan yang memperoleh pakan dalam jumlah dan komposisi yang lebih baik akan menghasilkan kotoran yang kualitasnya lebih baik pula. Hewan yang diberikan ransum banyak mengandung protein dan mineral, akan menghasilkan kotoran dan air kencing yang juga tinggi kandungan N dan mineralnya.

Manfaat Pupuk Kandang Organik Pupuk kandang dapat secara nyata menambah bahan organik dari tanah. Pupuk kandang mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Goeswono Soepardi (1983) menyatakan bahwa kadar rata-rata pupuk kandang siap pakai mengandung 0,5% N. Disamping mengandung unsur makro seperti N, P dan K, pupuk kandang juga mengandung unsur mikro seperti Ca, Mg, S (Musnamar, 2003a). Unsur P dalam pupuk kandang sebagian besar berasal dari kotoran padat, sedangkan N dan K berasal dari kotoran cair. Kandungan unsur K dalam kotoran cair lima kali lebih besar dari kotoran padat. Sementara kandungan N dalam kotoran cair hanya 2-3 kali lebih besar dari kotoran padat. Kotoran kambing mengandung unsur N dan K lebih tinggi dan kadar air lebih rendah dibandingkan kotoran sapi. Keadaan demikian merangsang jasad renik melakukan perubahan-perubahan aktif sehingga dekomposisi akan berlangsung lebih cepat.
Pemberian pupuk kandang pada tanaman tidak langsung dapat diserap melainkan harus mengalami beberapa proses perubahan dan penguraian sehingga terjadi pelepasan unsur hara secara perlahan-lahan dan bertahap oleh kerja mikroorganisme di dalam tanah (Winaya, 1983). Pupuk kandang mempunyai peranan menyuburkan tanah dan membuat struktur tanah menjadi mantap, sehingga dapat memperbesar daya simpan air dan sekaligus dapat mengurangi peresapan unsur-unsur hara tanaman, serta mengaktifkan mikroorganisme. Pupuk kandang dapat meningkatkan struktur tanah melalui aksinya sebagai pelarut remah dalam tanah yang padat atau dengan mengikat partikel tanah.
Pupuk organik termasuk pupuk majemuk karena mengandung unsur hara makro maupun mikro yang dapat memperbaiki struktur kesuburan tanah. Struktur tanah yang baik memungkinkan terjadinya suatu hubungan yang baik antara udara dan air di dalam tanah. Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butir-butir tanah. Gumpalan struktur terjadi karena butir-butir debu, pasir dan liat terikat satu sama lain oleh suatu perekat seperti bahan organik atau oksida besi. Pupuk organik dapat memperbaiki kesuburan tanah. Pada tanah berstruktur jelek seperti tanah liat dengan penambahan bahan organik akan mengurangi kelengketan sehingga mudah diolah. Sementara pada tanah berpasir, penambahan pupuk organik dapat meningkatkan daya pegang tanah terhadap air dan hara. Pada tanah asam, ion-ion yang dibutuhkan tanaman cenderung dalam kondisi terikat. Dengan adanya pupuk organik akan terjadi sistem pengikatan dan pelepasan ion dalam tanah sehingga dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Sifat Fisik dan Kimia Pupuk Organik

Sifat fisik meliputi kapasitas tukar kation (KTK), kemampuan mengikat air (water holding capacity/WHC), dan kepadatan (bulky density/BD), sedangkan Sifat kimia meliputi pH dan electric conductivity (EC) atau kadar garam yang dapat diukur dengan pH meter dan EC meter (Musnamar, 2003a).
KTK adalah sifat fisik yang berkaitan erat dengan kesuburan tanah yang dinyatakan dalam me/100g. KTK adalah kemampuan tanah untuk mempertukarkan kation-kation yang teradsorpsi dalam permukaan koloid tanah dengan kation lain yang ada dalam larutan tanah. Produk jadi dengan KTK tinggi mempunyai mutu lebih baik karena daya mengikat ion lebih tinggi. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi ternyata mempunyai KTK lebih tinggi daripada tanah yang sedikit bahan organik (Yuwono, 2005). Pupuk organik padat yang baik memiliki KTK lebih dari 50me/100g. Peningkatan KTK dapat menyebabkan kation yang diikat oleh koloid tanah dan koloid organik tanah akan mudah dilepaskan dan diganti dengan kation lain sehingga akan tersedia bagi perakaran tanaman (Hakim et al., 1986).
Pupuk organik padat dengan WHC lebih tinggi akan lebih baik karena daya memegang air juga lebih tinggi sehingga sangat baik untuk tanah terutama di saat musim kering atau kemarau. Hakim et al. (1986) menyatakan bahwa pengaruh bahan organik terhadap sifat fisik tanah adalah kemampuan menahan air yang meningkat. Tanah yang kecukupan bahan organik mempunyai kemampuan mengikat air yang lebih besar daripada tanah yang kandungan bahan organiknya rendah. Kemampuan mengikat air oleh pupuk organik dapat menjadikan porositas tanah lebih baik sehingga akan mendukung respirasi dan pertumbuhan akar tanaman.
Untuk sifat BD dinyatakan dengan g/ml yang berhubungan dengan penempatan ruangan. Bahan organik dapat berpengaruh terhadap menurunnya berat volume tanah. Pendapat tersebut didukung oleh Rawls (1982) yang menyatakan bahwa semakin tinggi kandungan bahan organik semakin rendah berat volumenya. Nilai berat volume dapat membatasi pertumbuhan akar, jika tanah mendapat tekanan besar maka pori-porinya menjadi kecil yang menyebabkan aerasi tanah rendah, difusi antar oksigen dan karbondioksida rendah, infiltrasi rendah dan peredaran air terhambat. Keadaan ini akan mengakibatkan kerusakan pada akar yaitu akar akan membusuk dan mati.
Nilai pH dapat digunakan sebagai indikator kesuburan kimiawi tanah, karena dapat mencerminkan ketersediaan hara dalam tanah tersebut. pH optimum untuk ketersediaan unsur hara tanah adalah sekitar 7,0, karena pada pH ini semua unsur makro tersedia secara maksimum sedangkan unsur hara mikro tidak maksimum kecuali Mo, sehingga kemungkinan terjadinya toksisitas unsur mikro tertekan. Pada pH di bawah 6,5 dapat terjadi defisiensi Ca, P, dan Mg serta toksisitas B, Mn, Cu, Zn, dan Fe, sedangkan pada pH diatas 7,5 dapat terjadi defisiensi P, B, Fe, Mn, Cu, Zn, Ca dan Mg, juga keracunan B dan Mo (Hanafiah, 2005). Produk dengan pH netral atau sedikit basa (pH 7-8) akan memberikan dampak yang lebih baik pada tanah. Bakteri dapat tumbuh optimal pada pH netral sedangkan fungi berkembang cukup baik pada kondisi pH agak asam. Di Indonesia keadaan tanah kebanyakan asam, air hujan yang turun berkepanjangan akan mencuci habis ion-ion basa seperti Ca, Mg, K, dan P dari tanah. Sebaliknya ion hidrogen semakin meningkat yang menyebabkan keasaman tanah.
Unsur hara akan lebih mudah diserap oleh tanaman pada kondisi pH tanah netral, yaitu 7 karena akan mudah larut di dalam air. Semakin asam kondisi tanah maka jumlah ion Al (aluminium) dan Mn (Mangan) dalam tanah semakin meningkat yang merupakan racun bagi tanaman. Pada tanah asam, unsur P tidak dapat diserap oleh tanaman karena diikat oleh Al, sementara pada tanah basa, unsur P juga tidak dapat diserap karena terikat dengan Ca. Selain itu, tanah asam mempunyai jumlah oksigen yang sedikit yang bisa menekan populasi bakteri aerob yang bertugas menguraikan bahan organik di dalam tanah.
EC menunjukkan kepekatan kandungan unsur hara yang dinyatakan dalam mmho. EC optimal yang baik berkisar antara1-10 mmho. Pada umumnya pupuk organik mengandung hara makro N,P,K rendah, tetapi mengandung hara mikro dalam jumlah cukup yang sangat diperlukan pertumbuhan tanaman. Larutan tanah mengandung garam-garam tertentu yang bersifat elektrolit. Garam-garam ini bisa berasal dari pelapukan batuan dan mineral. Oleh karena bersifat elektrolit, maka larutan tanah dapat menghantarkan arus listrik.
Kandungan garam tinggi dalam tanah merupakan masalah penting dalam pertanian, karena dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Menurut Russel (1977) garam-garam terlarut tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman melalui dua cara yaitu pengaruh umum dan pengaruh yang spesifik. Pengaruh umum disebabkan oleh meningkatnya tekanan osmotik larutan sekitar akar tanaman, sedangkan pengaruh spesifik adalah disebabkan oleh ion-ion utama yang terkandung dalam tanah berada dalam keadaan yang membahayakan pertumbuhan tanaman. Garam-garam yang terlarut dalam tanah sebenarnya merupakan unsur esensial bagi tanaman. Kation dan anion garam dalam jumlah tertentu merupakan hara bagi tanaman, tetapi kehadiran ion yang berlebihan justru akan merugikan tanaman dengan terjadinya plasmolisis dan penyerapan hara yang berlebihan. Selain itu peningkatan konsentrasi garam akan berpengaruh pada serapan K dan P pada tanaman yang menyebabkan produksi tanaman menjadi rendah.

Penutup

Pupuk kandang dapat diberikan pada permukaan tanah sebagai mulsa untuk mengendalikan pertumbuhan gulma, untuk mempertahankan kelengasan tanah, mengurangi erosi, dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah. Peran pupuk kandang sebagai komponen dalam pengalihan dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian yang berkelanjutan. Penggunaan pupuk kandang di masa datang akan sangat tergantung dari keunggulan yang dapat diperkirakan dan diwujudkan dari sumber unsur hara jika dibandingkan dengan pupuk buatan. Keunggulannya meliputi keunggulan ekonomi berkaitan dengan berkurangnya penggunaan pupuk buatan, perbaikan struktur dan unsur hara serta keuntungan pelestarian lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Goeswono, S (1983). Sifat dan Ciri Tanah. Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.R. Saul, M.A. Diha, G.B. Hong dan H.H. Baily. 1986. dasar Dasar Ilmu Tanah. Penerbit Universitas Lampung. 448h.

Hanafiah. K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Musnamar, E.I. 2003a. Pupuk Organik;Cair dan Padat, Pembuatan, Aplikasi. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta.

Musnamar, E.I. 2003b. Pupuk Organik Padat, Pembuatan dan Aplikasi. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta.

Pinus, L.M.. 2002. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rawls, W.J. 1982. Estimating Soil Bulk Density from Particle Size Analysis and Organik Matter Content.J. Soil. Sci. 155, : 75-82

Russell, O.E.W. 1977. Soil Conditions and plant Growth. Longmans, Green and Co Ltd. London.

Winaya, D, P. 1983. Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Udayana. Denpasar Bali.

Yuwono. D. 2005. Kompos. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta.

Selasa, 10 Maret 2009

Probiotik


Probiotik dan Manfaatnya Pada Pencernaan Ternak

Peningkatan teknologi dari segi pakan merupakan salah satu cara yang harus ditempuh karena dalam usaha peternakan komponen biaya pakan merupakan komponen terbesar yang harus dikeluarkan oleh peternak. Pendekatan dari segi bioteknologi sekarang ini mendapat perhatian yang besar, yaitu pemanfaatan jasa mikroba, enzim, hormon, dan probiotik yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas bahan pakan serta kualitas produksi. 
Beberapa bahan pakan ternak yang bersifat konvensional di Indonesia mempunyai potensi untuk dikembangkan, ditinjau dari segi ketersediaannya. Akan tetapi, kadang-kadang ditemukan faktor pembatas dalam pemanfaatnnya. Intervensi bioteknologi untuk mengatasi masalah tersebut akhir-akhir ini telah mampu memecahkan berbagai permasalahn pakan untuk ternak. Bioteknologi telah mampu menghasilkan pakan ternak yang optimal baik dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas ketersediaan pakan untuk mencapai tujuan keuntungan jangka panjang. 
Salah satu bioteknologi yang implementasinya berkembang pesat akhir-akhir ini adalah penggunaan probiotik dalam meningkatkan kualitas pakan ternak. Probiotik merupakan bahan yang berasal dari kultur mikroba atau substansi lain yang berasal dari kultur mikroba yang dapat mempengaruhi keseimbangan alami di dalam saluran pencernaan, dan bila diberikan dalam jumlah yang tepat akan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan zat-zat makanan (Andajani, 1997). Probiotik adalah mikroba hidup yang mengandung media tempat tumbuh dan produksi metabolismenya. Probiotik terdiri dari bakteri gram positif, bakteri gram negatif, yeast, dan kapang.
Berbagai hasil penelitian telah menunjukkan bahwa pemberian perlakuan penambahan probiotik pada pakan ternak telah mampu meningkatkan secara nyata baik produksi maupun produktivitas ternak. Dengan cara memanipulasi komposisi bakteri yang ada dalam saluran pencernaan ternak, probiotik mampu meningkatkan digestibility bahan pakan yang dikonsumsi ternak.

Sejarah probiotik

Konsep probiotik sudah dikenal sejak 2000 tahun yang lalu. Namun baru awal abad ke-19 dibuktikan secara ilmiah oleh Ilya Metchnikoff, seorang ilmuwan Rusia yang bekerja di Institut Pasteur, Paris. Metchnikoff mendapatkan, bangsa Bulgaria yang mempunyai kebiasaan mengonsumsi yogurt (susu fermentasi) tetap sehat dalam usia lanjut. Metchnikoff menyatakan bahwa mikro-organisme yang terdapat pada saluran pencernaan terdiri dari dua jenis, ada yang menguntungkan dan ada yang merugikan. Pemberian yoghurt yang mengandung Lactobasillus bulgaricus (bakteri yang menguntungkan) meningkatkan kesehatan dan harapan hidup seperti terjadi pada penduduk Balkan. Prinsip kerja bakteri-bakteri probiotik (lactobacillus dan Bifidobacterium) bekerja secara anaerob menghasilkan asam laktat mengakibatkan turunnya pH saluran pencernaan yang menghalangi perkembangan dan pertumbuhan bakteri-bakteri pathogen. Berbeda dengan bakteri pathogen (Escherichia coli) yang mendiami daerah dinding pencernaan untuk mengembangkan penyakit, bakteri-bakteri probiotik mendiami mukosa pencernaan yang juga berakibat perubahan komposisi dari bakteri yang terdapat dalam saluran pencernaan. 
Pada saat ternak mengalami stres, keseimbangan mikro-organisme dalam saluran pencernaan terganggu, mengakibatkan sistem pertahanan tubuh menurun dan bakteri-bakteri pathogen berkembang dengan cepat. Pemberian probiotik dapat menjaga keseimbangan komposisi mikro-organisme dalam sistem pencernaan ternak berakibat meningkatnya daya cerna bahan pakan dan menjaga kesehatan ternak. 

Probiotik Untuk Ternak

Probiotik merupakan pakan tambahan dalam bentuk mikroba hidup yang dapat memberikan pengaruh menguntungkan bagi ternak inangnya dengan meningkatkan keseimbangan populasi mikroba dalam saluran pencernaan ternak yang bersangkutan (Fuller, 1979). Sedangkan menurut Ritonga (1992b) probiotik didefinisikan sebagai suatu kultur spesifik dari mikroorganisme hidup seperti bakteri dari Strain Lactobacillus yang dapat memberikan efek-efek menguntungkan pada ternak serta dapat berfungsi untuk memperbaiki keseimbangan mikrobial di dalam saluran pencernaan ternak.  
Syarat probiotik adalah : bakteri tersebut tidak patogen terhadap ternak maupun manusia, bakteri tersebut harus merupakan mikroorganisme yang normal berada di dalam saluran pencernaan dan sanggup melakukan kolonisasi didalam usus, harus tahan terhadap asam-asam lambung, dan garam-garam empedu, enzim-enzim pencernaan, maupun respon-respon kekebalan didalam tubuh ternak, serta sanggup memproduksi zat-zat anti bakteri yang berspektrum luas pada bakteri-bakteri patogen pada saluran pencernaan manusia (Ritonga, 1992a). Umumnya yang memenuhi syarat-syarat tersebut diatas adalah bakteri dari Strain Lactobacillus dan Pediococci spp.

Pengaruh Probiotik Terhadap Ternak 

Penelitian yang berkaitan dengan pemberian probiotik terhadap pakan ternak telah banyak dilakukan. Pemberian Lactobacillus acidophilus pada pakan ternak meningkatkan pertambahan berat badan sapi dan efesiensi makanan, sementara tingkat kematian ternak sapi menurun dari 7,5 persen menjadi 1,5 persen akibat pemberian probiotik. Pemberian probiotik Bio-CAS berfungsi untuk membantu meningkatkan efisiensi pencernaan ternak. Bio-Cas terdiri dari bakteri dari Genus Ruminococcus, Bakteroides, Laktobacillus, serta genus jamur fermentatif lainnya yang berfungsi merombak bahan organik kompleks menjadi bahan organik sederhana sehingga lebih mudah dicerna oleh enzim pencernaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 5 cc Bio-cas pada sapi Bali yang diberikan pakan tambahan 2 kg dedak padi/ekor/hari ternyata mampu memberikan pertambahan berat badan sapi Bali sebesar 600-650 g/ekor/hari. Pada ternak ayam pemberian Lactobacillus meningkatkan pertambahan berat badan 491,3 g/hari dibandingkan dengan kontrol 459,6 g/ hari. Namun, penelitian pada babi pengaruh probiotik baru jelas terlihat apabila ternak tersebut berada dalam kondisi stres, sementara keadaan normal tidak terdapat pengaruh nyata. 
Di samping bakteri, fungi juga digunakan sebagai probiotik. Saccharomyces cerevisiea dan Aspergillus oryzae merupakan jenis fungi yang banyak digunakan dalam pakan ternak. Saccharomyces cerevisiea mempunyai karakteristik khusus dalam pakan ternak karena kemampuannya memproduksi asam glutamat yang dapat meningkatkan palatability dari pakan tersebut. Berbeda dengan bakteri, fungi merupakan mikro-organisme yang mempunyai tingkat resisten yang tinggi dan dapat hidup pada kondisi yang kurang menguntungkan, di samping itu juga fungi mudah dikembang biakkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian Aspergillus niger meningkatkan berat badan 5,9 persen dan meningkatkan efisiensi pakan 0,8 persen. Peningkatan penampilan ternak akibat pemberian Aspergillus niger disebabkan oleh meningkatnya asam lemak terbang (volatile fatty acids) seperti asam asetat, asam butirat, dan asam propionat yang merupakan sumber energi bagi ternak terutama ternak ruminansia (sapi, kerbau, atau kambing). Juga dilaporkan bahwa pemberian Saccharomyces cerevisie dapat meningkatkan daya cerna protein dan serat seperti selulosa dan hemiselulosa. Transpor ternak dari satu tempat ke tempat lainnya dapat mengakibatkan ternak menjadi stres, penambahan fungi pada pakan ternak selama masa perpindahan ternak dapat menjadi salah satu pemecahan masalahan. 

Probiotik dalam Pencernaan Serat Kasar pada Ruminansia

Dalam usaha meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan untuk menghasilkan produk ternak secara optimal perlu adanya bahan pakan yang memiliki nilai gizi tinggi. Zat gizi yang terkandung didalam pakan kadang-kadang berada pada ikatan molekuler yang sulit dicerna sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai sumber zat gizi yang diperlukan ternak. Dengan makanan jenis kasar, pola fermentasinya sebagian besar melalui multiplikasi organisme-organisme pencerna serat kasar yang mencerna selulosa dan hemiselulosa. Urutan pola fermentasi dalam rumen adalah glukosa → silosa → pati → selulosa. Peranan mikroba rumen dalam membantu pemecahan zat gizi dalam pakan dan mengubahnya menjadi senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh ternak merupakan keuntungan yang dimiliki oleh hewan ruminasia. Pakan yang berserat merupakan pakan yang biasa untuk ternak ruminasia, namun pemecahan komponen serat (selulosa, hemiselulosa dan lignin) sangat tergantung pada aktivitas enzimatis mikroba rumen serta sifat degradabilitas komponen serat tersebut. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa aktivitas enzimatis mikroba rumen dapat dirangsang melalui induksi sintesis enzim maupun melalui peningkatan populasi mikroba tertentu (Hobson dan Jouany, 1988).
Pemanfaatan probiotik yang merupakan campuran berbagai spesies mikroorganisme, terutama mikroorganisme yang mampu memecah komponen serat (cellulolytic microorganism) melalui pakan dapat meningkatkan produktivitas ternak. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya kecepatan cerna (rate of digestion) serat pada awal proses pencernaan sehingga mempengaruhi ketersediaan energi adenosine triphospate (ATP) yang diperlukan dalam poliferasi mikrobial rumen. Nilai kecernaan semu (extend of digestion) pada umumnya tidak mengalami perubahan yang berarti terutama setelah waktu inkubasi selama 48 jam. Manipulasi rumen dapat diarahkan utuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui maksimalisasi kecernaan nutrien maupun sintesis protein mikroba rumen. Manipulasi ini dapat digunakan melalui penggunaan antibiotik, defaunasi, peghambatan produksi methan, maupun penggunaan probiotik. Serangkaian penelitian pemafaatan probiotik dalam pakan telah dilakukan di BALITNAK secara in vitro maupun in vivo dengan hasil yang menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap peningkatan kecernaan komponen serat pakan maupun terhadap produktivitas ternak (Haryanto et al, 1998). 

Pengaruh Probiotik Pada Ternak Unggas

Penambahan probiotik dalam ransum secara nyata dapat meningkatkan pertambahan berat badan ayam. Hal ini sebagai akibat dari meningkatnya konsumsi ransum. Peningkatan konsumsi ransum ini akan diikuti dengan peningkatan konsumsi zat-zat makanan lainnya, khususnya asam-asam amino dan mineral yang sangat erat sekali kaitannya dengan pertumbuhan (Wahyu, 1988). Adanya zat probiotik dalam ransum juga dapat meningkatkan kecernaan zat-zat makanan.  
  Menurut Barrow (1992), pada dasarnya ada dua tujuan utama dari penggunaan probiotik pada unggas yaitu : (1) Untuk tujuan manipulasi mikroorganisme saluran pencernaan bagian anterior (crop, gizard dan usus halus) dengan menempatkan mikroflora dari strain Lactobacillus sp dan (2) Untuk meningkatkan daya tahan ternak dari infeksi Salmonella. Dilaporkan oleh Jin et al. (1997), manfaat probiotik pada unggas adalah : (1) Menempatkan mikroorganisme yang menguntungkan dan menekan mikroorganisme yang merugikan; (2) Meningkatkan aktivitas enzim-enzim pencernaan dan menekan aktivitas enzim-enzim bakteri yang merugikan; (3) Memperbaiki feed intake dan pencernaan; dan (4) Menekan produksi gas amonia dan merangsang sistem pertahanan tubuh.
  Ramia dan Bidura (2000), melaporkan bahwa suplementasi probiotik dalam ransum ternyata dapat meningkatkan berat karkas dan persentase daging karkas, sebaliknya menurunkan jumlah lemak sub kutan termasuk kulit. Dilaporkan juga bahwa penurunan kandungan protein dalam ransum ternyata menurunkan berat karkas dan jumlah daging karkas, Sebaliknya jumlah lemak subkutan termasuk kulit menurun. Kandungan protein ransum yang lebih rendah dari standar yang direkomendasikan ternyata menurunkan pertumbuhan ayam dan sebaliknya dengan adanya suplementasi 0,20 % probiotik dalam ransum berprotein rendah, pertumbuhan ayam meningkat dibandingkan dengan kontrol (Ramia dan Bidura, 2000). Bidura dan Candraasih (2001) menyatakan bahwa suplementasi probiotik dalam ransum berprotein rendah secara nyata menurunkan jumlah lemak subkutan termasuk kulit dibandingkan dengan kontrol pada itik Bali jantan umur 8 minggu.  

DAFTAR PUSTAKA

Andajani, R. 1997. Peran Probiotik Dalam Meningkatkan Produksi Unggas. Poulty Indonesia No : 26/April 1997 Hal ;19-20

Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba Pada Ruminansia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Barrow, P.A. 1992. Probiotics for Chickens. In. Probiotik for Chicken. In Probiotics The Scientific Basis (By : R Fuller) 1st Ed. Champnan and Hall. London. Hal 225-250

Bidura. I.G.N.G dan N.N Candraasih.2001. Suplementasi Probiotik Dalam Ransum Berprotein Rendah Terhadap Distribusi LemakTubuh Itik Bali. Majalah Ilmiah Peternakan, Fapet Unud 4 (2) : 47-51

Fuller, R. 1979. History and Development of Probiotics. In Probiotik for Chicken. In Probiotics The Scientific Basis (By : R Fuller) 1st Ed. Champnan and Hall. London. Hal 1-10. 

Haryanto, B., A. Thalib dan Isbandi. 1998. Pemanfaatan Probiotik Dalam Upaya Peningkatan Efisiensi Fermentasi Pakan di Dalam Rumen. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor. Hal 496-502
Hobson, P.N. and JP. Jouany. 1988. Models Mathematical and Biological, of the Rumen Function. The Rumen Microbial Ecosystem. P.N Hobson (ed.). Elseiver Science Publishers. London.

Jin, L.Z., Y.W. Ho, N. Abdullah and S. Jalaludin. 1997. Probiotics in Poultry : Modes of Action. Worlds Poultry Sci. J.53 (4) : 351-368

Ramia, I.K dan I.G.N.G. Bidura. 2000. Suplementasi Probiotik Dalam Ransum Berprotein Rendah Terhadap Bobot dan Komposisi Fisik Karkas Itik Bali. Majalah Ilmiah Peternakan, Fapet Unud 3 (3) : 48-56

Ritonga, H.1992a. Bakteri Sebagai Pemicu Pertumbuhan. Poultry Indonesia No. 14/April , Hal : 11-13

Ritonga, H. 1992b. Beberapa Cara Menghilangkan Mikroorganisme Patogen. Majalah Ayam dan telur No. 73/Maret , Hal 24-26

Wahyu, J. 1988. Ilmu Nutrisi Unggas. Cetakan II, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

susu kambing

Penanganan dan Pengolahan susu
Penanganan awal yang harus dilakukan pada susu setelah pemerahan adalah pasteurisasi. Pasteurisasi perlu dilakukan untuk mencegah penularan penyakit dan mencegah kerusakan karena mikroorganisme dan enzim. Kondisi pasteurisai dimaksudkan untuk memberikan perlindungan maksimum terhadap penyakit yang dibawa oleh susu, dengan mengurangi seminimum mungkin kehilangan zat gizinya dan sementara itu mempertahankan semaksimal mungkin rupa dan cita rasa susu mentah segar. Bila dilaksanakan dengan tepat pasteurisasi dapat menghancurkan semua organisme patogen (Sulandra dkk, 1992).
Langkah-langkah pasteurisasi susu dengan panas dapat dikerjakan langsung di lokasi pemerahan untuk menghindari kerusakan pada susu, bila proses ini ditunda terlalu lama maka kerusakan pada susu akan semakin cepat terjadi. Langkah tersebut adalah :
1. Masukkan air susu dalam suatu wadah/panci
2. Ambil wadah/panci dengan ukuran lebih besar dari wadah pertama. Kemudian isi dengan air dingin lebih dari setengahnya
3. Masukan panci lebih kecil kedalam panci yang lebih besar
4. Letakkan panci diatas pemanas api, tanpa ditutup supaya uap air tidak menetesi susu
5. Masak perlahan-lahan dengan api sedang, sampai suhu air pada panci mencapai 65oC
6. Bila suhu air sudah mencapai 65oC, pertahankan suhu selama 15 menit, bla perlu api dikecilkan
7. Angkat panci yang berisi susu dan dinginkan secepatnya
8. Simpan pada suhu5oC-10oC (dalam lemari es) atau bisa juga didalam frezeer


Susu merupakan bahan dasar berbagai olahan susu. Yang dimaksud dengan hasil olahan susu adalah produk yang dibuat dari susu atau produk-produk suatu perlakuan terhadap susu. Terdapat beberapa jenis produk olahan susu, diantaranya susu kental manis, keju, es krim, yoghurt, dodol susu dan krupuk susu (Hermain,2001 dan Padaga; Sawitri, 2005).
Proses pengolahan ini sebagian besar bisa dikerjakan pada skala rumah tangga atau kelompok dengan memperhatikan sanitasi lingkungan tempat pengolahan untuk menghindari tercemarnya susu dari mikroorganisme penyebab kerusakan (Trisnawati, 2002). Adapun cara-cara dalam proses pengolahan tersebut adalah :

Susu Kental Manis
Bahan :
- Susu 400 ml
- Susu bubuk skim 200 gr
- Gula pasir 400 gr
- Penyedap bubuk coklat
Cara Pengolahan :
- Gula dilarutkan dalam susu segar, kemudian dipanaskan selanjutnya disaring
- Susu yang sudah disaring dimasukkan kedalam blender
- Susu bubuk skim dimasukkan perlahan-lahan kedalam susu segar yang ada didalam blender
- Pengadukan dalam blender dilakukan selama 10 menit
- Susu dimasukkan kedalam wadah atau botol jam
- Lakukan pasteurisasi pada suhu 70oC selama 30 menit

Dodol Susu
Bahan :
- Susu segar 400-500 cc
- Santan kental 400-500 cc (dari 1butir kelapa ukuran sedang)
- Gula pasir 400-500 gr
- Pisang atau tape kira-kira 700 gr
Cara Pengolahan :
- Susu dan gula dimasak dengan api sedang dalam wajan sampai gula larut
- Masukkan santan sedikit demi sedikit sambil diaduk rata
- Setelah santan menyatu dengan bahan lain, masukkan bahan padatan tape atau pisang yang telah dihaluskan kedalam wajan
- Api dapat dibesarkan, setelah agak kental kecilkan apinya. Lakukan pengadukan sampai kental dan kalis
- Turunkan wajan dari pemanas dan bisa langsung dicetak dengan cetakan segi empat yang dibawahnya dilapisi dengan kertas roti atau plastik
- Dodol dapat dilepas dari cetakan apabila sudah dingin dan dodol siap untuk dikonsumsi atau dibungkus dan dikemas

Krupuk Susu
Bahan :
- Susu segar 1 liter
- Tepung kanji 1-1,5 kg
- Bawang merah
- Garam
Cara Pengolahan :
- Rebus susu hingga mendidih, sedangkan garam dan bawang merah dihaluskan dan dicampur dengan kanji
- Tuang susu yang sudah mendidih kedalam adonan tepung kanji sedikit demi sedikit, adonan diuleni terus hingga menjadi adonan yang tidak lengket ditangan
- Masukkan adonan kedalam air panans mndidih hingga matang, angkat dan dinginkan. Kemudian adonan yang sudah matang tadi bisa diiris tipis-tipis, dijemur dan akhirnya digoreng

Es Krim
Bahan :
- Susu segar 500 cc
- Gula pasir 100 gr
- Susu bubuk skim 50 gr
- Buah nangka 200 gr, blender sampai halus
- Tepung maizena 30 gr (sebagai pengental), larutkan dengan sedikit air
- Telur ayam segar 5 butir (kuningnya saja)
- Garam dapur ¼ sendok teh
- Vanili ¼ sendok teh
Cara Pengolahan :
- Masak susu dan gula sampai mendidih dengan api kecil, kemudian masukkan susu bubuk skim, aduk rata dan saring adonan yang menggumpal. Kemudian masukkan maizena yang telah dilarutkan air, aduk sampai rata sampai mengental, angkat dan dinginkan
- Kocok, telur, garam dan vanili sampai lembut dalam mangkuk besar
- Masukkan adonan susu kedalam kocokan telur, masukkan juice nangka. Kocok kembali sampai rata dan lembut kemudian adonan ditutup dengan plastik supaya tidak terbentuk langit-langit
- Masukkan kedalam freezer kira-kira 3 jam sampai adonan sebagian membeku
- Keluarkan, tuang kedalam mangkuk, kocok dengan mixer sampai halus, masukkan kembali ke freezer. Lakukan proses ini 2-3 kali baru tuang kedalam cetakan atau wadah. Terakhir masukkan lagi kedalam frezzer sampai menjadi es krim

Tip yang harus diperhatikan :
- Selama proses pengocokan, lakukanlah didalam wadah berisi potongan-potongan es batu agar tetap dingin
- Pada waktu adonan es krim dibekukan, gunakan wadah tertutp dari plastik

Yoghurt
Bahan :
- Susu segar 1 liter
- Susu skim 5%
- Coklat atau air buah-buahan (juice)
- Stater 2%
- Gelatin atau agar 0,1%-0,3%
Cara Pengolahan :
- Susu di pasteurisasi pada suhu 70oC selama 30 menit. Masih dalam keadaan panas tambahkan larutan gelatin atau agar
- Suhu diturunkan sampai mencapai 43oC
- Kemudian ditambahkan stater sebanyak 2%, selanjutnya aduk sampai rata
- Kemudian masukkan kedalam stoples, di inkubasikan pada inkubator pada suhu 43oC selama 3 jam (kriteria selesainya permeraman, bila pH sudah mencapai 4-4,5)
- Setelah pemeraman yoghurt harus disimpan dalam keadaan dingin + 5oC. Bila akan diminum sebaiknya dipanaskan terlebih dahulu pada suhu yang tidak terlalu tinggi (pasteurisasi)